Situs ini baik dibuka dengan Windows Arabic atau Windows dengan bahasa default Arabic !!!

بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له .وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله. أما بعد

09 Desember 2009

Al-Madigoliyyah

Syaikh Nashir ibn Abdul Karim Al-Aql حفظه اللهdalam kitab Al-Khawarij Awalul Firaq fi Tarikh Al-Islam, mengatakan bahwa Khawarij yang tersisa sekarang memang Al-Ibaadhiyah. Dalam masalah sifat-sifat Allah, mereka (Al-Ibadhiyah) sependapat dengan Ahlus Sunnah dari satu sisi (teorinya) akan tetapi pada perinciannya, mereka menceburkan diri pada takwil. Mereka dalam hal ini sejalan dengan Al-Asy’ariyah dan Ahlul Kalam. Al-Ibadhiyah juga mengingkari ru’yah (melihat Allah) mereka dalam hal ini menyelisihi ijma Salaf Ahlus Sunnah dan sependapat dengan Al-Jahmiyah, Al-Mu’tazilah dan Ar-Rafidhah.

Al-Ibadhiyah juga kadang bertaqiyah ketika mereka minoritas, perbedaan dengan Rafidhah (Syi’ah) dalam mendukung taqiyah adalah dalam hal perinciannya. Taqiyah menurut Rafidhah adalah taqiyah nifak (kemunafikan), adapun menurut Al-Ibadhiyah adalah memuliakan agama dalam keadaan apapun dan tidak menyembunyikan syi’ar-syi’ar Islam yang sudah jelas, akan tetapi mereka hanya menyembunyikan hukum-hukum yang kejam dihadapan orang lain yang bersebrangan dengan mereka.

Dalam masalah al-wala dan al-bara mereka melampaui batas dalam hal ini, sampai mereka menghubungkannya dengan semua hukum ketaatan sehingga sampai pada tingkat berlebihan yang tidak tertahankan. Menurut Syaikh kelompok ini masih eksis di Jazirah Arab terutama Yaman, juga Jazirah Arab Maghribi seperti Libiya, Tunisia dan Al-Jazair.

Kesamaan Al-Ibaadhiyah dan Firqah Lainnya dengan Al-Madigaliyah

Berikut akan kami sebutkan kesamaan Al-Ibaadhiyah dengan Al-Madigaliyah, menurut ciri-ciri yang disebutkan Syaikh Nashir ibn Abdul Karim Al-Aql حفظه الله:

1. Dalam masalah pokok Khawarij yaitu pengkafiran

2. Dalam masalah ru’yah, Madigaliyyah percaya bahwa orang iman tidak bisa melihat Allah di surga, menurut mereka yang terlihat hanyalah cahaya keagungan Allah, dalam hal ini mereka terjebak oleh makna yang salah atas lafazh hadits.

3. Dalam hal asma dan shifat, mereka menakwil Tangan Allah dengan kekuasaan Allah, dan kebanyakan da’i-dai mereka jahil dalam masalah dimana Allah? Jawaban mereka adalah jawaban Jahmiyah, bukan Ahlus Sunnah.

4. Madigaliyah juga bertaqiyah sebagaimana Al-Ibaadhiyah, tetapi mereka sebut dengan nama lain yaitu FBBL (Fathonah, Bithonah, Budi Luhur atau budi luhur saja).

5. Dalam hal al-wala dan al-bara mereka sangat berlebihan yang diikat dengan istilah 5 Bab. Perinciannya sebagai berikut:

- Ngaji, dalam bab ini mereka menerapkan metode yang disebut mangkul yang intinya adalah agar pengikutnya tertutup dari info-info selain dari kelompoknya, tidak mempercayai kecuali yang berasal dari kelompoknya dan tidak loyal kecuali kepada kelompoknya. Kalaupun sikap mereka menjadi lunak, namun mereka akan memberikan kelonggaran dengan banyak syarat serta ikatan-ikatan yang njelimet, supaya akal-akal pikiran para pengikutnya tetap tertutup bila mendengar hal-hal yang bertentangan dengan jalan mereka atau mendengar bantahan terhadap bid'ah mereka. [Syaikh Ali Hasan Al-Halabi حفظه الله, Ad-Da'wah Ilallah Baina At-Tajammu' Al-Hizbi Wa Ta'awun As-Syar'i].

- Mengamal, yaitu mengamalkan hanya apa yang telah dimangkul, sedangkan mangkul mereka terhadap kitab-kitab sunnah sedikit dan ulama-ulama mereka lemah dalam ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab, akibatnya adalah terjatuh disangaja atau tidak dalam bid’ah-bid’ah karena hadits-hadits palsu dan lemah atau salah memaknai dan menafsirkan ayat atau lafazh hadits.

- Membela, maksudnya membela kelompok mereka, tetapi pada bab ini yang ditekankan adalah dalam hal pembelaan harta yang disebut persenan, bahkan kaidah ke empat (Sambung) baik tidaknya diukur dari persenan ini.

- Sambung Jama’ah, yaitu diukur dengan dua hal: Pertama, pengikutnya harus selalu datang ke pengajian dan kegiatan-kegiatan lain dalam kelompoknya (bagi yang tidak datang diwajibkan taubat), kegiatan ini adalah dalam rangka cuci otak dan mengulang-ulang doktrin lama agar pengikutnya tidak pergi. Oleh sebab itu porsi nasihat bagi mereka lebih besar dari pada porsi menerangkan Kitabullah dan Sunnah. Kedua, menyerahkan persenan kepada keimaman sirriyah.

- Taat, yaitu taat kepada imam sirriyah (rahasia) yang mereka bai’at layaknya kepada amirul mukminin. Mereka tidak mengakui pemerintah Indonesia sebagai pemerintah sah yang wajib ditaati karena dianggap telah kafir, dan bertaqiyah dengan pahamnya ini karena masih dalam keadaan lemah. Ini mirip sekali dengan pemahaman Syi’ah sebagaimana kami sebutkan didepan.

Madigaliyah juga mirip dengan paham-paham sesat lainnya, seperti: Makramiyah, Sufiyah, dan Rafidhah, seperti yang sering kami bahas dalam buku-buku kami.

Kenapa Diberi nama Madigoliyyah?

Oleh karena mereka sering berganti-ganti nama, dan berlindung dibalik nama-nama yang tersembunyi dan berusaha sekuat tenaga menutupinya dihadapan Umaro dan Ulama, maka lebih tepat jika mereka dinisbatkan kepada peletak dasar pemahaman menyimpang ini, yaitu Madigol atau Nur Hasan. Orang ini adalah ukuran wala dan baro mereka, dan pahamnya menjadi tolak ukur kebenaran diatas Al-Qur’an dan Sunnah.

Benar mereka mengingkarinya, tapi lihatlah bagaimana mereka berkata: ‘Bahwa pemahaman jama’ah (yaitu jama’ah mereka -pen) sudah final”, tidak bisa digangu gugat lagi. “Orang yang belajar ke Mekkah dan Madinah hanya untuk memperkuat pemahaman yang telah ada”, “Sudah mangkulnya begini”, “Selain mangkul dari Abah sesat”, dan yang semacamnya.

Betapa malangnya, berta’asub kepada orang yang tidak maksum lagi jahil.

01 Desember 2009


SEgera TErbit !!!

JIlid 1 :
- Mangkul
- Imamah
- Jama'ah Sirriyah
- Sifat-sifat Khawarij
- Infak persenan dll

100 Dalil dari Al-Qur'an, al-Hadits dan Perkataan Ulama, disertai komentar singkat & padat.

Dapat dipesan mulai sekarang ke:


darulhadits@rocketmail.com

Bagikan kepada keluarga anda, teman-teman anda dan siapa saja agar mereka terbebas dari belenggu Madigoliyah yang berbahaya .....

20 November 2009

Doa Setiap Selesai baca Al-Qur’an

اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي بِالْقُرْآنِ


Doa Khatam (tamat membaca seluruhnya) Al-Qur’an didalam shalat atau diluarnya tidak ada yang sah berasal dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Yang paling shahih dalam masalah ini adalah apa yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwa apabila beliau mengkhatamkan Al-Qur’an beliau mengumpulkan keluarganya lalu berdoa dan meminta kebaikan untuk mereka. Tidak dikatahui bagaimana doa beliau itu dan tidak pula diriwayatkan bahwa beliau mengundang selain dari keluarganya.

Atsar itu diriwayatkan oleh Ibn Mubarak dalam Az-Zuhud no. 809, Ibn Abi Syaibah dalam Al-Mushanaf no. 1087, Ad-Darimi (2/468, 469), Thabrani no. 674 dan lainnya. Al-Haitsami dalam Al-Majma (7/172), “Perawinya tsiqah”.

Adapun perbuatan sebagian orang dizaman sekarang yaitu membaca doa khatam al-Qur’an tertentu (kami akan sebutkan takhrijnya dibawah) pada saat selesai membaca Al-Qur’an walaupun bukan mengkhatamkannya, maka terkumpul tiga kesalahan pada mereka:

1. Membaca doa itu –kalau riwayatnya itu shahih- harusnya ketika khatam al-Qur’an bukan ketika selesai membacanya saja.

2. Doa itu diriwayatkan oleh hadits yang mu’dhol jadi haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah.

3. Hal ini termasuk bid’ah, karena ibadah itu memerlukan dalil, sedangkan pada perbuatan mereka ini tidak ada dalil.

Berikut penjelasannya:

Lafazh doa:

اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي بِالْقُرْآنِ وَاجْعَلْهُ لِي إمَامًا وَنُورًا وَهُدًى وَرَحْمَةً اللَّهُمَّ ذَكِّرْنِي مِنْهُ مَا نُسِّيت وَعَلِّمْنِي مِنْهُ مَا جَهِلْت وَارْزُقْنِي تِلَاوَتَهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ، وَاجْعَلْهُ لِي حُجَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Doa ini diriwayatkan oleh Abu Manshur Al-Mudhofar bin Al-Husein dalam Fadhoil Al-Qur’an dan Abu Bakar Adh-Dhahak dalam Asy-Syamail dari jalan Abu Dzar Al-Harawi dari riwayat Abu Sulaiman Dawud bin Qais yang berkata, Rasulullah shallallhu’alaihi wasalam bersabda tatkala khotam Al-Qur’an : lalu menyebutkan doa diatas.

Al-Bahuti dalam Kasyful Qana’ (3/273) berkata: Ibn Jauzi berkata: “Hadits Mu’dhol”. Hadits ini terdapat dalam Ihya Ulumuddinnya Al-Ghazali (1/278), Al-Iraqi dalam Takhrijnya terhadap Al-Ihya juga menganggap hadits ini mu’dhol. Az-Zarkasi dalam Al-Burhan fi Ulumul Qur’an (1/475 –cet Darul Ihyaul Kutub) menyandarkannya kepada Baihaqi dalam Ad-Dalail tapi sebenarnya tidak ada didalam kitab itu. Ibn Al-Jazri dalam An-Nasyr fi Qiro’atil Asyr (2/510) menjelaskan bahwa Dawud bin Qais ini adalah Al-Fara’ Ad-Dabagh Al-Madani dari Tabi’it Tabi’in, jadi terputus riwayatnya jika dimarfukan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam.

Lihat pula Fatawa Arkanul Islam, hal. 354 - Syaikh ibn Utsaimin dan Syaikh Bakr Abu Zaid dalam Juz’unnya: 'Marwiyyat Doa Khatmi Al-Qur’an'.

Kesimpulannya: Doa ini tidak sah untuk diamalkan pada setiap selesai membaca atau mengkhatamkan Al-Qur’an, apalagi dilazimkan (dirutinkan) dan bahkan diwajibkan, yang karenanya manusia akan merasa kurang jika tidak membacanya. Yang demikian lahir bukan dari orang yang senang ibadah, bukan pula lahir dari orang yang mencukupkan diri kepada sunnah, wallahu’alam.

18 November 2009

Baru Download Kitab Aqidah:

(Klik dibawah)

***Aqidah Ath-Thahawiyah***

***I’tiqad Ibn Abi Hatim Ar-Razi***

***Ushulus Sunnah Al-Humaidi***

Insyaallah Kitab Aqidah Lainnya Menyusul….

Nasihat Bermanfaat Dari Syaikh Shalih Fauzan

Al-Fauzan 1

Fauzan 2

Fauzan 3

12 November 2009

Berhukum Dengan Selain Hukum Allah


Imam Al Bukhari rahimahullahu menyatakan dalam Shahihnya:

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَرَاهُمْ شِرَارَ خَلْقِ اللَّهِ وَقَالَ إِنَّهُمْ انْطَلَقُوا إِلَى آيَاتٍ نَزَلَتْ فِي الْكُفَّارِ فَجَعَلُوهَا عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Ibnu Umar memandang mereka (Khawarij) sebagai makhluk terjelek dan menyatakan: ‘Sunguh mereka mengambil ayat-ayat yang turun untuk orang kafir lalu menerapkannya untuk kaum mukminin“.

Pasal tentang persoalan berhukum selain hukum Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” [QS. Al-Maaidah : 44].

Imam Baihaqi rahimahullahu dalam Sunan Al-Kubro (8/20) berkata:

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْمَوْصِلِىُّ حَدَّثَنَا عَلِىُّ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ حُجَيْرٍ عَنْ طَاوُسٍ قَالَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : إِنَّهُ لَيْسَ بِالْكُفْرِ الَّذِى تَذْهَبُونَ إِلَيْهِ إِنَّهُ لَيْسَ كُفْرًا يَنْقُلُ عَنْ مِلَّةٍ (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ) كُفْرٌ دُونَ كُفْرٍ.

Mengkhabarkan kepada kami Abu Abdillah Al-Hafizh: telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin Sulaiman Al-Mausili: menceritakan kepada kami Ali bin Harb: menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari Hisyam bin Hujair dari Thawus beliau berkata: Berkata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhu (saat menafsirkan ayat di atas): “Sesungguhnya ia bukanlah kekufuran sebagaimana yang mereka (Khawarij) maksudkan. Ia bukanlah kekufuran yang mengeluarkan dari agama (murtad). ‘Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir’; yaitu kekufuran di bawah kekufuran (kufrun duna kufrin)”.

Diriwayatkan juga oleh Said bin Manshur dalam As-Sunan (4/1482 no. 749), Ahmad dalam Al-Iman (4/160 no. 1419), Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah (2/736 no. 1010), Muhammad bin Nashr Al-Marwazi dalam Ta’dhiim Qadrish-Shalah (2/521 no. 569), Ibnu Abi Hatim dalam At-Tafsir (4/1143 no. 6364), Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid (4/237), Al-Hakim (2/313); yang kesemuanya melalui jalan Sufyan bin ‘Uyainah, dari Hisyam bin Hujair, dari Thawus, dari Ibnu ‘Abbas. Al-Hakim berkata: “Hadits ini sanadnya shahih, namun tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim”. Dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi. Imam Al-Albani dalam Ash-Shahihah (6/113) berkomentar, “Dan yang benar bagi mereka berdua adalah untuk mengatakan: “(Shahih) atas persyaratan Al-Bukhari dan Muslim, karena sanadnya adalah seperti itu”.

Abu Abdillah berkata: Al-Hafidz Ibnu Baththah Al-‘Ukbari telah memasukkan perkataan Ibnu ‘Abbas dari riwayat ‘Abdurrazzaq ini dalam kitabnya Al-Ibanah (2/723) pada bab :

ذكر الذنوب التي تصير بصاحبها إلى كفر غير خارج به من الملّة

“Penyebutan dosa-dosa yang menyebabkan pelakunya terjerumus pada kekufuran, tanpa mengeluarkannya dari agama (murtad)”.

Al-Hafidz Ibnu ‘Abdil Barr dalam At-Tamhid (17/16) berkata:

وقد ضلت جماعة من أهل البدع من الخوارج والمعتزلة في هذا الباب فاحتجوا بهذه الآثار ومثلها في تكفير المذنبين، واحتجوا من كتاب الله بآيات ليست على ظاهرها مثل قوله عزّ وجل: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾

“Dan sungguh telah sesat sekelompok ahlul-bida’ dari Khawarij dan Mu’tazillah dalam bab ini. Mereka berhujjah dengan atsar-atsar ini dan yang semisal dengannya untuk mengkafirkan orang-orang yang berbuat dosa. Mereka juga berhujjah dengan ayat-ayat Kitabullah tidak sebagaimana dhahirnya seperti firman Allah ’Azza Wa Jalla: ”Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”.

Abu Abdillah berkata: Ini lah yang dijadikan hujjah Imam Tirmidizi dalam Sunan, setelah menyebutkan hadits no. 2635:

وَقَدْ رُوِىَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَطَاوُسٍ وَعَطَاءٍ وَغَيْرِ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالُوا كُفْرٌ دُونَ كُفْرٍ وَفُسُوقٌ دُونَ فُسُوقٍ.

Dan sungguh telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Thowus, Atho dan selainnya dari banyak ahli ilmu yang berkata, “Kufrun duna kufrin dan fusukun duna fusukin”.

17 Oktober 2009

Makna Jami’an

جَمِيعًا


Yaitu pada firman Allah Ta’ala :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا

Dan berpeganglah kepada tali Allah jami’an, dan janganlah kamu bercerai berai (Ali Imron 103).

Maknanya ada dua, dan dua-duanya benar yaitu semakna:

Makna Pertama,

جميعا maknanya semuanya yaitu semua kaum muslimin hendaknya berpegang teguh dengan Tali Allah. Sebagaimana firman Allah:

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا

“Katakanlah: "Hanya kepunyaan Allah syafaat itu jami’an” (Qs. Az-Zumar 44). Yaitu semuanya, tanpa kecuali.

Makna Kedua,

جميعا dimaknai (مجتمعين عليه), maksudnya jadilah kalian semua orang-orang yang bersatu diatasnya yaitu diatas Tali Allah (Kitabullah dan Sunnah). Jadikanlah Kitabullah dan Sunnah sebagai pemutus perselisihan diantara kamu sekalian, sehingga kalian tidak bercerai berai.

Lihat Tafsir Al-Baidhawi (1/73), Tafsir Ibn ‘Ajibah (1/315), Tafsir Al-Alusy (4/19), dan Ibnu Jauzi dalam Zadul Masir (1/433).

Kedua makna itu tidak saling bertentangan. Sebab Allah Ta’ala memerintahkan kita semua tanpa kecuali agar berpegang teguh dengan Tali Allah yaitu Kitabullah dan Sunnah, menjadikan keduanya sebagai pemersatu, walaupun badan kadang tidak ada disatu tempat.

Kesimpulan

Jadi sebagimana sering dinasehatkan bahwa siapa saja, dimana saja, kapan saja, dan dalam keadaan bagaimana pun haruslah berpegang teguh dengan Tali Allah.

Walhamdulillah.

15 Oktober 2009

Tentang Dibencinya Perkumpulan Sirriyah


(38). Ibn Abi Ashim v dalam Kitabus Sunnah (no 887):

ثنا الحسن بن علي الحلواني ، والحصين بن البزار ، قالا : ثنا محمد بن الصباح ، ثنا سعيد بن عبد الرحمن الجمحي ، عن عبيد الله بن عمر ، عن نافع ، عن ابن عمر ، قال : جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله أوصني . قال : « اعبد الله ولا تشرك به شيئا ، وأقم الصلاة، وآت الزكاة ، وصم رمضان ، وحج البيت ، واعتمر ، وَاسْمَعْ وَأَطِعْ وَعَلَيْكَ بِالْعَلاَنِيَّةِ وَإِيَّاكَ وَالسِّرَّ »

Menceritakan kepada kami Al-Hasan ibn Ali Al-Halwani dan Al-Hushain bin Al-Bazar, berkata keduanya: menceritakan kepada kami Muhammad ibn Ash-Shabah, menceritakan kepada kami Sa’id ibn Abdurahman Al-Jamhi dari Ubaidullah bin Umar dari Nafi dari Ibnu Umar a yang berkata: Datang seorang laki-laki kepada Nabi n dan berkata: “Ya Rasulullah nasihati saya”. Beliau n bersabda: "Beribadahlah kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan puasalah dibulan ramadhan, hajilah ke Baitullah dan umrohlah. Dengar dan taatlah (kepada pemerintah), lazimilah keterbukaan, dan waspadailah sirriyah (ketertutupan/kerahasiaan)".

Hadits ini dikuatkan oleh Imam Al-Albani v dalam Zhilal Al-Jannah (no. 1070), beliau berkata: “Isnadnya jayyid”. Hadits ini diriwayatkan juga oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 165, beliau berkata, “Shahih dengan syarat Bukhori dan Muslim”, dan disetujui adz-Dzahabi. Dikeluarkan pula oleh Baihaqi dalam Syu’abul Iman (no. 3975), semuanya dari jalan Muhammad bin Sabah. Juga disebutkan Ibn Adi dalam Al-Kamil (3/399).

(39). Imam Ahmad v dalam Az-Zuhud no. 1694:

حدثنا عبد الله ، حدثنا عبد الله بن عمرو ، حدثنا ابن المبارك ، أخبرني الأوزاعي قال : قال عمر بن عبد العزيز : إِذَا رَأَيْتَ قَوْمًا يَتَنَاجَوْنَ فِيْ دِيْنِهِمْ دُوْنَ الْعَامَّةِ فَاعْلَمْ أَنَّهُمْ عَلَى تَأْسِيْسِ ضَلاَلَةٍ

Menceritakan kepada kami Abdullah, menceritakan kepada kami Abdullah bin Amru, menceritakan kepada kami Ibn Mubarak, mengkhabarkan kepada saya Al-Auzai beliau berkata, Umar bin Abdil Aziz v berkata: "Jika engkau melihat suatu kaum yang berbisik-bisik (berbicara rahasia) tentang agama mereka, tanpa orang banyak, maka ketahuilah bahwa mereka sedang merintis kesesatan".

Atsar ini diriwayatkan lagi oleh Ahmad pada no. 1705, Ad-Darimi dalam As-Sunan (no. 313), dan Al-Lalika'i dalam Syarh Ushul I'tiqod Ahlus Sunnah wal Jama'ah (no. 219 dan no. 1093), dan Ibnu Abdil Barr dalam Jami' Bayan Al-Ilm (3/160).


Pasal Tentang Tidak Sahnya Bai’at Rahasia,

Dengan Tanpa Diketahui Kaum Muslimin


(40). Imam Ahmad v meriwayatkan dalam Musnad Ahmad (1/55) no. 391 sebuah hadits yang panjang, dibawah ini adalah ringkasannya, beliau berkata :

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ عِيسَى الطَّبَّاعُ حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ حَدَّثَنِي ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ رَجَعَ إِلَى رَحْلِهِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَكُنْتُ أُقْرِئُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ فَوَجَدَنِي وَأَنَا أَنْتَظِرُهُ وَذَلِكَ بِمِنًى فِي آخِرِ حَجَّةٍ حَجَّهَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ إِنَّ رَجُلًا أَتَى عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ إِنَّ فُلَانًا يَقُولُ لَوْ قَدْ مَاتَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَايَعْتُ فُلَانًا فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنِّي قَائِمٌ الْعَشِيَّةَ فِي النَّاسِ فَمُحَذِّرُهُمْ هَؤُلَاءِ الرَّهْطَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ أَنْ يَغْصِبُوهُمْ أَمْرَهُمْ

Menceritakan kepada kami Ishaq ibn Isa At-Tabba’ dia berkata, menceritakan kepada kami Malik ibn Anas, dia berkata, telah bercerita kepada ku Ibn Syihab dari Ubaidullah ibn Abdullah ibn Utbah ibn Mas’ud bahwa Ibn Abbas membertahukan kepadanya bahwa Abdurrahman ibn Auf kembali ke rumahnya, Ibn Abbas berkata, “Aku ingin memberikan salam kepada Abdurrahman bin Auf, maka ia menjumpaiku sementara aku telah menunggunya –peristiwa itu terjadi di Mina pada waktu Umar bin Khattab melaksanakan haji yang terakhir- maka Abdurrahman berkata, “Seseorang pernah mendatangi Umar dan berkata, “Ada orang yang mengatakan jika Umar wafat maka aku akan membai’at si fulan”!. Maka Umar menjawab, “Selepas shalat isya nanti aku akan berbicara pada manusia sambil memperingatkan mereka dari sekelompok orang-orang yang ingin mencari masalah” ….

وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَمَا وَاللَّهِ مَا وَجَدْنَا فِيمَا حَضَرْنَا أَمْرًا هُوَ أَقْوَى مِنْ مُبَايَعَةِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَشِينَا إِنْ فَارَقْنَا الْقَوْمَ وَلَمْ تَكُنْ بَيْعَةٌ أَنْ يُحْدِثُوا بَعْدَنَا بَيْعَةً فَإِمَّا أَنْ نُتَابِعَهُمْ عَلَى مَا لَا نَرْضَى وَإِمَّا أَنْ نُخَالِفَهُمْ فَيَكُونَ فِيهِ فَسَادٌ فَمَنْ بَايَعَ أَمِيرًا عَنْ غَيْرِ مَشُورَةِ الْمُسْلِمِينَ فَلَا بَيْعَةَ لَهُ وَلَا بَيْعَةَ لِلَّذِي بَايَعَهُ تَغِرَّةً أَنْ يُقْتَلَا

Kemudian Umar a melanjutkan nasihatnya: “Demi Allah kami tidak pernah menemui perkara yang paling besar dari perkara bai’at terhadap Abu Bakar. Kami sangat takut jika kami tinggalkan mereka tanpa ada yang dibai’at, maka mereka kembali membuat bai’at. Jika seperti itu kondisinya kami harus memilih antara mematuhi bai’at mereka padahal kami tidak merelakannya, atau menentang bai’at yang mereka buat yang pasti akan menimbulkan kehancuran, maka barangsiapa membai’at seorang amir tanpa musyawarah dengan kaum muslimin terlebih dahulu, maka tidak ada bai’at baginya. Dan tidak ada bai’at terhadap orang yang mengangkat bai’at terhadapnya, keduanya harus dibunuh”.

Hadits ini dalam Bukhari no. 6329.

(41). Imam Ibn Abi Ashim v dalam Al-Mudzakkir wa At-Tadzkir hal. 91:

حدثنا أبو بكر بن ابي شيبة نا محمد بن بشر ثنا عبيد الله ابن عمر عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ ، عَنْ أَبِيْهِ ، قَالَ : بَلَغَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَنَّ نَاسًا يَجْتَمِعُوْنَ فِيْ بَيْتِ فَاطِمَةَ فَأَتَاهَا فَقَالَ : يَا بِنْتَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, مَا كَانَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْ أَبِيْكَ وَلاَ بَعْدَ أَبِيْكَ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْكِ فَقَدْ بَلَغَنِيْ أَنَّ هؤُلاَءِ النَّفَرَ يَجْتَمِعُوْنَ عِنْدَكَ, وَايْمُ اللهِ لَئِنْ بَلَغَنِيْ ذَلِكَ لأَحَرِّقَنَّ عَلَيْهِمُ الْبَيْتَ, فَلَمَّا جَاءُوْا فَاطِمَةَ قَالَتْ : إِنَّ ابْنَ الْخَطَّابِ قَالَ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ فَاعِلُ ذَلِكَ ، فَتَفَرَّقُوْا حَتَّى بُوْيِعَ لأَبِيْ بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

Menceritakan kepada kami Abu Bakar ibn Abi Syaibah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar menceritakan kepada kami Ubaidullah ibn Umar dari Zaid ibn Aslam dari Bapaknya, beliau berkata: "Telah sampai (suatu berita) kepada Umar bin Khathab a bahwa ada beberapa orang yang akan berkumpul di rumah Fathimah. Maka Umar mendatangi Fathimah seraya berkata, "Wahai Putri Rasulullah n, tak ada seorang pun yang yang lebih kami cintai dibandingkan ayahmu, dan tak ada orang yang paling kami cintai setelah ayahmu dibandingkan anda. Sungguh telah sampai berita kepadaku bahwa ada beberapa orang yang berkumpul di sisimu (secara rahasia). Demi Allah, jika sampai berita hal itu kepadaku, maka sungguh aku akan membakar rumah mereka". Tatkala mereka mendatangi Fathimah, maka Fathimah berkata, "Sesungguhnya Umar bin Khathab berkata demikian dan demikian. Sungguh ia akan melakukan hal itu". Lalu merekapun berpencar sehingga Abu Bakar a dibai’at".

Dan telah meriwayatkan pula Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (8/572/4), semisal ini.

(42). Imam Ahmad v dalam Kitab Fadhail ash-Shahabah (2/573) no. 969 :

قثنا إسحاق بن يوسف قثنا عبد الملك يعني بن أبي سليمان عن سلمة بن كهيل عن سالم بن أبي الجعد عن محمد بن الحنفية قال كنت مع علي وعثمان محصور قال فأتاه رجل فقال ان أمير المؤمنين مقتول ثم جاء آخر فقال ان أمير المؤمنين مقتول الساعة قال فقام علي قال محمد فأخذت بوسطه تخوفا عليه فقال خل لا أم لك قال فأتى علي الدار وقد قتل الرجل فأتى داره فدخلها وأغلق عليه بابه. فأتاه الناس فضربوا عليه الباب فدخلوا عليه فقالوا إن هذا الرجل قد قتل ولا بد للناس من خليفة ولا نعلم أحدا أحق بها منك فقال لهم علي لا تريدوني فإني لكم وزير خير مني لكم أمير فقالوا لا والله ما نعلم أحدا أحق بها منك قال فإن أبيتم علي فإن بيعتي لا تكون سرا ولكن أخرج إلى المسجد فمن شاء أن يبايعني بايعني قال فخرج إلى المسجد فبايعه الناس

Sungguh telah menceritakan kepada kami Ishaq ibn Yusuf, sungguh menceritakan kepada kami Abdul Malik yakni Ibn Abi Sulaiman dari Salamah ibn Kuhail dari Salim ibn Abi Al-Ja’di dari Muhammad ibn Hanafiyah ia berkata, “Aku bersama Ali saat Utsman dikepung, lalu datanglah seorang laki-laki dan berkata, “Amirul mukminin telah terbunuh”. Kemudian datang laki-laki lain dan berkata, “Sesungguhnya amirul mukminin baru saja terbunuh”. Ali segera bangkit namun aku cepat mencegahnya karena khawatir keselamatan beliau. Beliau berkata, “Celaka kamu ini!”. Ali segera menuju kediaman Utsman dan ternyata Utsman telah terbunuh. Beliau pulang ke rumah lalu mengunci pintu. Orang-orang mendatangi beliau sambil mengedor-ngedor pintu lalu menerobos masuk menemui beliau. Mereka berkata, “Lelaki ini (Utsman) telah terbunuh. Sedangkan orang-orang harus punya khalifah. Dan kami tidak tahu ada orang yang lebih berhak daripada dirimu”. Ali berkata, “Tidak, kalian tidak menghendaki diriku, menjadi wazir bagi kalian lebih aku sukai daripada menjadi amir”. Mereka berkata, “Tidak demi Allah kami tidak tahu ada orang yang lebih berhak daripada dirimu”. Ali berkata, “Jika kalian tetap bersikeras, maka bai’atku bukanlah bai’at yang rahasia. Akan tetapi aku akan ke mesjid, barangsiapa ingin membai’atku maka silahkan ia membai’atku”. Ali pun pergi ke mesjid dan orang-orang pun membai’at beliau.

Atsar ini dikeluarkan juga oleh Abu Bakar Al-Khalal v dalam As-Sunnah no. 629 dan no. 630, kemudian aku melihat bahwa Al-Ajuri v mengeluarkannya juga dalam Asy-Syari’ah no. 1194. Isnad atsar ini hasan, karena Abdul Malik bin Abi Sulaiman shaduq, telah ditsiqahkan oleh lebih dari satu orang.

(43). Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid v dalam Hukmul Intima’ (hal. 128),

أن البيعة في الإسلام واحدة, من ذوي الشوكة: أهل الحل والعقد لولي أمر المسلمين وسلطانهم, وأن ما دون ذلك من البيعات الطرقية والحزبية في بعض الجماعات الإسلامية المعاصرة كلها بيعات لا أصل لها في الشرع لا من كتاب الله ولا سنة رسوله n ولا عمل صحابي, ولا تابعي, فهي بيعات مبتدعة وكل بدعة ضلالة وكل بيعة لا أصل لها في الشرع فهي غير لازمة العهد, فلا حرج ولا إثم في تركها و نكثها, بل الإثم في عقدها, لأن التعبد بها أمر محدث لا أصل له ناهيك عما يترتب عليها من تثقيق الأمة, وتفرقها شيعا, وإثارة الفتن بينها, واستعداء بعضها على بعض, فهي خارجة عن حد الشرع سواء سميت بيعة أو عهدا أو عقدا

"Sesungguhnya bai’at dalam Islam adalah satu, berasal dari ahlul halli wal aqdi (tokoh-tokoh masyarakat) kepada pemerintah dan penguasa kaum muslimin. Sesungguhnya bai’at selain itu berupa bai’at-bai’at tarekat dan hizbiyyah pada sebagian jama’ah-jama’ah Islamiyyah masa kini, semua bai’at ini adalah bai’at-bai’at yang yang tak ada asalnya dalam syari’at, baik dari Kitabullah, Sunnah Rasulullah n, amaliah seorang sahabat, dan tabi’in. Itu adalah bai’at-bai’at bid’ah. Sedang setiap bid’ah adalah sesat; setiap bai’at yang tak ada asal (dasar)nya dalam syari’at maka bai’at-bai’at itu tak perlu dijaga. Karenanya, tak ada masalah, dan dosa ketika meninggalkannya, dan melanggarnya. Bahkan ada dosa ketika melakukannya. Karena ta’abbud (mendekatkan diri) dengannya adalah perkara baru yang tidak ada dasarnya. Belum lagi masalah yang timbul dari akibat bai’at-bai’at tersebut berupa penceraiberaian umat, pemecah-belahan umat menjadi berkelompok-kelompok, memancing fitnah (polemik) diantara mereka, pelampauan batas atas satu kelompok dengan kelompok lain. Jadi, bai’at-bai’at ini keluar dari batasan syari’at; sama saja apakah ia diistilahkan dengan "Bai’at", "janji", atau "akad" (persetujuan)".

(44). Syaikh Amru Abdul Mun’im Salim dalam kitab Al-Manhaj As-Salafi Inda Syaikh Nasruddin Al-Albani hal. 233, mengutip perkataan Syaikh Nasiruddin Al-Albani v:

إنهم يستدلون بهذا الحديث وبالتالي إن بعضهم يطبقون على أمرائهم الذين يبايعونهم, مشل قوله عليه الصلاة والسلام : من مات وليس فِي عنقه بيعة مات ميتة جاهلية، ولذلك فهم يؤمرون أميراً، ويبايعونه، هذا الأمير ليس هو الذي يجب أن يبايع. وإنما على المسلمين أن يعملوا بكل ما أوتوا من قوة ومن علم لإ عادة المجتمع الإسلامي الذي يتطلب أن يقوم عليه رجل واحد هوالخليفة الذي يجب على كل المسلمين ان يبايعوه، أما هذه الجماعة تؤمر عليها أميرا وتوجب على الآفراد البيعة وإنهم إذا لم يبايعوه ماتوا ميتة جاهلية, فهذا من تحريف الكلم عن مواضعه وهذا مما يجوز للمسلم أنيقع فيه.

“Sesungguhnya mereka (jama’ah-jama’ah hizbiyah) berdalil dengan hadits ini (Hadits imammah dan jama’ah), lalu sebagian mereka menerapkannya kepada pemimpin mereka yang mereka telah membai’atnya, seperti sabda Rasulullah n: “Barangsiapa mati dan dilehernya tidak ada bai’at, maka matinya seperti mati dalam keadaan jahiliyah”. Oleh karena itu mereka mengangkat amir, dan membai’atnya. (padahal) Amir seperti ini bukan amir yang wajib dibai’at. Dan apa-apa (yang wajib) bagi kaum muslimin adalah bekerja dengan setiap kekuatan dan ilmu untuk mengembalikan masyarakat Islami yang menuntut bangkitnya seorang laki-laki sebagai Khalifah yang wajib dibai’at oleh setiap orang Islam. Adapun jama’ah-jama’ah yang ada sekarang mengangkat seorang amir diantara mereka, dan tiap anggota diwajibkan berbai’at kepadanya. Dan jika ada yang tidak membai’atnya, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah !!, ini tindakan penyimpangan (tahrif) kalimat dari posisinya, dan tidak boleh terjadi seperti ini bagi kaum muslimin”.

10 Oktober 2009

Infak Bukan Persenan


Firman Allah Ta’ala :

وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“…. Yang mendirikan shalat dan menginfakan sebagian rizki yang kami anugerahkan kepada mereka”. (Surat Al-Baqarah 3)

(42). Ibn Jarir Ath-Thabari v dalam Tafsir (1/243) no. 286:

حدثني المثنى، قال: حدثنا عبد الله بن صالح، عن معاوية، عن علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس،"ومما رزقناهم ينفقون"، قال: زكاةَ أموالهم

Menceritakan kepada saya Al-Mutsana yang berkata: menceritakan kepada kami Abdullah bin Sholih dari Mu’awiyah dari Ali bin Abi Tholhah dari Ibn Abbas a tentang firman Allah : “dan menginfakan sebagian rizki yang kami anugerahkan kepada mereka”. Dia berkata: “Maksudnya adalah mengeluarkan zakat dari harta kekayaan yang ia miliki”.

Dikeluarkan dari jalan lain dari Ibn Abbas pada nomor 285.

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah berkata dalam Majmu Al-Fatawa (13/361-362),

مَنْ عَدَلَ عَنْ مَذَاهِبِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَفْسِيرِهِمْ إلَى مَا يُخَالِفُ ذَلِكَ كَانَ مُخْطِئًا فِي ذَلِكَ بَلْ مُبْتَدِعًا وَإِنْ كَانَ مُجْتَهِدًا مَغْفُورًا لَهُ خَطَؤُهُ فَالْمَقْصُودُ بَيَانُ طُرُقِ الْعِلْمِ وَأَدِلَّتِهِ وَطُرُقِ الصَّوَابِ وَنَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ الْقُرْآنَ قَرَأَهُ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُونَ وَتَابِعُوهُمْ وَأَنَّهُمْ كَانُوا أَعْلَمَ بِتَفْسِيرِهِ وَمَعَانِيهِ كَمَا أَنَّهُمْ أَعْلَمُ بِالْحَقِّ الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ بِهِ رَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa yang berpaling dari mazhab sahabat dan tabi’in dan tafsir mereka kepada yang menyelisihinya, maka ia telah salah, bahkan sebagai ahli bid’ah. Kalau ia sebagai mujtahid akan diampuni kesalahannya. Dan kita mengetahui sesungguhnya Al-Qur’an telah dibaca oleh para sahabat dan tabi’in dan yang mengikuti mereka. Dan sesungguhnya mereka lebih mengetahui tentang tafsir Al-Qur’an dan makna-maknanya sebagaimana mereka lebih tahu tentang kebenaran yang Allah telah mengutus Rasul-NYa dengan membawa kebenaran itu”.

Dari kitab kami : Kumpulan Hadits, Atsar dan Perkataan Ulama Bantahan Bagi Madigoliyah (Jilid 1), insyaAllah akan segera diterbitkan oleh Pustaka Darul Hadits.

Wajibnya Pengetahuan

Sesungguhnya Allah Ada Di Langit (Diatas Arsy)


Allah Ta’ala berfirman:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Ar-Rahman, Yang bersemayam di atas 'Arsy”. (Thaahaa 5).

Imam Ad-Darimi v dalam Radd Alal Jahmiyah no. 20 :

حدثنا مسلم بن إبراهيم الأزدي ، ثنا أبان وهو ابن يزيد العطار ، عن يحيى بن أبي كثير ، عن هلال بن أبي ميمونة ، عن عطاء بن يسار ، عن معاوية بن الحكم السلمي ، رضي الله عنه قال : كانت لي جارية ترعى غنما لي في قبل أحد والجوانية ، وإني اطلعت يوما اطلاعة فوجدت ذئبا ذهب منها بشاة ، وإني رجل من بني آدم ، آسف كما يأسفون ، فصككتها صكة، فعظم ذلك على النبي صلى الله عليه وسلم ، فقلت : أفلا أعتقها ؟ ، فقال : « ادعها » ، فقال لها النبي صلى الله عليه وسلم : « أين الله ؟ » قالت : في السماء . قال : « فمن أنا ؟ » قالت : أنت رسول الله قال : « أعتقها ، فإنها مؤمنة »

Menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrohim Al-Azdi, menceritakan kepada kami Aban yaitu Ibn Yazid Al-‘Athar dari Yahya bin Abi Katsir dari Halal bin Abi Maimunah dari Atho bin Yasar dari Mu’awiyah bin Hakam As-Salami a berkata, “Dahulu aku mempunyai kambing yang tersebar antara Uhud dan Jawaniyah dan ditunggui oleh budak wanita milik ku. Pada suatu hari aku melihatnya (mendapat laporan) bahwa seekor srigala telah membawa seekor kambing. Karena aku adalah cucu Adam, aku kemudian memarahi dan memukulinya dengan kuat. Kemudian aku mendatangi Rasulullah n dan menceritakan semua itu kepada beliau. Beliau n menganggap permasalahan tersebut sebagai masalah yang besar. Kemudian aku berkata, “Apakah aku harus memerdekakannya?”. Beliau n menjawab, “Panggil dia”. Aku pun memanggilnya, kemudian Rasulullah n berkata kepadanya, “Dimanakah Allah?”. Ia menjawab, “Di atas langit”. Beliau n bertanya lagi, “Siapakah aku?”. Ia menjawab, “Engkau adalah utusan Allah”. Beliau n berkata, “Merdekakanlah ia, karena ia telah menjadi seorang perempuan yang beriman”.

Lihat juga Malik (3/5-6 – Tanwirul Hawalik), Muslim no. 537, Abu Dawud no. 930-931, Nasai no. 1218, Ahmad (5/447, 448, 449) Abu Dawud Ath-Thayalisi no. 1105, Ibn Jarud dalam Al-Muntaqa (no. 212), Baihaqi (2/249-250), Ibn Khuzaimah dalam At-Tauhid (hal. 121-122), Ibn Abi Ashim dalam As-Sunnah (no. 489), Al-Lalikai no. 652, dan lainnya.

Imam Ad-Darimi v dalam Radd Alal Jahmiyah berkata,

هذا دليل على أن الرجل إذا لم يعلم أن الله عز وجل في السماء دون الأرض فليس بمؤمن ولو كان عبدا فأعتق لم يجز في رقبة مؤمنة ، إذ لا يعلم أن الله في السماء . ألا ترى أن رسول الله صلى الله عليه وسلم جعل أمارة إيمانها معرفتها أن الله في السماء ؟ وفي قول رسول الله صلى الله عليه وسلم : « أين الله ؟ » تكذيب لقول من يقول : هو في كل مكان ، لا يوصف ب «أين»

“Didalam hadits Rasulullah n ini terdapat dalil. Bahwa seseorang apabila tidak mengetahui sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berada diatas langit bukan dibumi tidaklah dia seorang mu’min. tidaklah engkau perhatikan bahwa Rasulullah n telah menjadikan tanda keimanan budak perempuan itu lewat pengetahuan sesungguhnya Allah berada diatas langit. Dan didalam pertanyaan Rasulullah n kepada budak perempuan, “Dimanakah Allah?”. Juga mendustakan perkataan orang yang mengatakan bahwa Allah berada dimana-mana dan tidak boleh disifatkan dengan pertanyaan dimana”.

Dari kitab kami : Kumpulan Hadits, Atsar dan Perkataan Ulama Bantahan Bagi Madigoliyah (Jilid 1), insyaAllah akan segera diterbitkan oleh Pustaka Darul Hadits.